VIA DOLOROSA EKOLOGIS

Salam, GKJ Karanganyar nyedulur!
“Papa, Minggu kemarin media daring ramai memberitakan demo menolak proyek geothermal
gunung Lawu di Karanganyar, sebenarnya ada apa to?” Si sulung bertanya di grup WA
keluarga. “Wah… penjelasannya panjang, besok aja kalau ketemu langsung ya.” Demikian
respon saya kepada si sulung. Hati saya sebenarnya merasa senang sebab masih ada orang
muda yang punyak minat untuk memberi perhatian pada isu lingkungan. Apakah anda juga
punya minat pada isu proyek geothermal gunung Lawu?
Wacana proyek geothermal di kawasan gunung Lawu kabarnya akan dibangun di wilayah
kecamatan Jenawi. Bila hal ini terwujud maka akan dilakukan pengeboran untuk
pengembangan energi panas bumi. Rencana ini mendapatkan penolakan dari masyarakat
sekitar sebab dikhawatirkan dapat menyebabkan dampak kerusakan hutan, hilangnya
sumber mata air dan kerusakan pada situs-situs budaya dan spiritual.
Melalui kementrian ESDM pemerintah sudah memberikan pernyataan bahwa kawasan
gunung Lawu tidak lagi masuk dalam rencana pengembangkan geothermal, namun pada hari
Jumat 13 Februari 2026 kemarin Aliansi Jaga Lawu yang terdiri dari para petani, pecinta
alam, dan pegiat budaya kembali mengadakan demo tolak proyek geothermal gunung Lawu.
Mengapa? Karena menurut mereka proyek tersebut ternyata tetap dilanjutkan secara diam-diam

dan sekarang sudah sampai tahap lelang. Waduh…. mana yang benar?
Dengan gambaran kasus proyek geothermal gunung Lawu ini kita mengetahui bahwa isu
lingkungan sering melibatkan kekuatan-kekuatan besar yang bekerja dengan berbagai cara
sesuai kepentingan masing-masing. Kekuatan-kekuatan itu adalah: (1) Negara atau
pemerintah sebagai pemegang kekuasaan dan pembuat kebijakan, (2) pasar sebagai
kekuatan ekonomi yang ikut melelang proyek untuk mendapat keuntungan, dan (3)
masyarakat sipil seperti Aliansi Jaga Lawu.

Sekarang bagaimana kita sebagai pribadi atau gereja harus bersikap dan memposisikan diri
dalam ketegangan seperti ini? Pada hemat saya ada beberapa hal yang dapat kita lakukan,
yaitu:
1) Kita harus terus merawat kepekaan dan perhatian kita pada isu-isu lingkungan
seperti ini. Isu lingkungan adalah isu penting yang memiliki dampak yang besar bagi
kehidupan kita. Bawalah terus di dalam doa, baik di dalam doa pribadi maupun doa
syafaat dalam persekutuan ibadah.
2) Terus ikuti dan cermati perkembangan isu proyek geothermal gunung Lawu atau isu
lingkungan lain di berbagai media dan bila perlu sampaikan pandangan kita secara
bijaksana.
3) Gereja harus berpihak kepada masyarakat sipil. Keberpihakan kepada masyarakat
sipil sangat penting sebagai upaya mewujudkan suara kenabian dan upaya
memperkuat masyarakat sipil sehingga sehingga tercipta keseimbangan dan kontrol
kepada pemerintah dan pasar.
Saya harus mengingatkan bahwa perjuangan pertobatan ekologis bukan perkara yang mudah
dan sepele sebab perjuangan ini seringkali harus berhadapan dengan kekuatan negara yang
cenderung represif dan kekuatan ekonomi yang menghalalkan segala cara untuk meraih
keuntungan. Tetapi sebenarnya resiko ini masuk akal apabila disandingkan dengan
perjuangan Tuhan Yesus yang harus melalui jalan salib untuk memulihkan keutuhan
ciptaan. Sekarang saya ingin mengakhiri dengan satu tantangan: Bersediakah kita berjalan di

belakang Tuhan Yesus, berjuang via dolorosa untuk memulihkan keutuhan ciptaan melalui
pertobatan ekologis?
Selamat beribadah, Tuhan memberkati. (Pamong) 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *