PERTOBATAN EKOLOGIS

Dalam teologi ekologi terdapat istilah ekologi dangkal dan ekologi dalam. Ekologi dangkal
menekankan pemahaman bahwa perjuangan untuk menghentikan kerusakan alam itu di
dasarkan pada alasan untuk kepentingan manusia, alam memiliki nilai instrumental atau bernilai
sejauh bermanfaat untuk manusia. Sedangkan ekologi dalam meyakini bahwa alam memiliki nilai
pada dirinya sendiri (intrinsik). Prof.Gerrit Singgih memberi contoh begini: Ekologi dangkal akan
memberikan persetujuan sebuah sungai dibendung menjadi waduk untuk pembangkit listrik agar
bermanfaat bagi manusia, tetapi ekologi dalam akan membiarkan sungai mengalir apa adanya
agar tidak menganggu keseimbangan lingkungan dan kelestariannya terjaga. Anda lebih setuju
pada ekologi dangkal atau ekologi dalam? Memang tidak mudah untuk menentukan sikap, tetapi
pada hemat saya lebih baik bila kita berada dalam ketegangan diantara ekologi dangkal dan
ekologi dalam sehingga kita selalu dapat bersikap kritis diantara keduanya. Kecintaan kepada
lingkungan alam ciptaan Tuhan menolong kita untuk menghargai alam sebagai subjek yang
memiliki nilai intrinsik sehingga kita dapat lebih bijaksana dan bertanggungjawab dalam
mengelolanya.

Lingkungan alam adalah ciptaan Tuhan, melalui lingkungan alam tersebut Allah berkenan hadir
dan menunjukkan kemuliaanNya (panentheisme). Oleh karena itu upaya pemulihan keutuhan
lingkungan alam sama dengan sikap memuliakan Tuhan Sang Pencipta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *